Nyatanya Begini, lho, Sejarah serta Filosofi Roti Buaya

Lelaki buaya darat, buset! Saya tertipu lagi. Jangan keburu kaget! Mister gak hendak mangulas soal buaya darat, kok. Buaya yang ingin Mister bahas merupakan buaya yang dapat dimakan. Buaya apakah itu? The one and only, roti buaya. Umumnya, nih, sehabis dijadikan seserahan harus dalam lamaran serta perkawinan orang Betawi, roti buaya dibagikan kepada para tamu. Emang iya bener semacam itu bagi tradisinya?
Besar. Panjang. Empuk. Lezat. Begitulah roti buaya yang kerap kita amati ataupun nikmati sepanjang ini. Jika kamu kebetulan turut dalam kegiatan lamaran ataupun perkawinan orang Betawi, kamu dapat, tuh, icip- icip roti buaya. Terlebih jika kamu masih jomlo, harus, tuh, dapetin roti buaya. Katanya, sih, supaya lekas memiliki jodoh seperti si pengantin.
Era saat ini, usai dijadikan seserahan, roti buaya kemudian dinikmati bersama- sama. Sementara itu, bercermin pada tradisi Betawi yang sebetulnya, roti buaya bukan buat dibagikan kepada para tamu, melainkan ditaruh oleh para pengantin. Roti tersebut sejatinya pula bukan buat dimakan, melainkan dijadikan pajangan. Bimbang? Baca aja, deh, hingga akhir Pesan Roti Buaya .
Saat sebelum beranjak ke ulasan tentang roti buaya yang tidak sepatutnya dimakan, Mister ingin mangulas tentang buaya terlebih dulu. Dari sekian banyak hewan, mengapa buaya? Nyatanya, itu sebab buaya merupakan hewan yang setia terhadap pendampingnya. Iya, buaya cuma kawin sekali seumur hidupnya. Gak hendak selingkuh- selingkuh, deh.
Kesetian buaya terhadap pendampingnya seperti itu yang membuat warga Betawi menjadikannya seserahan dalam lamaran serta perkawinan dalam bentuk roti. Diharapkan pendamping yang menikah dapat setia semacam buaya. Tidak nyangka, ya, nyatanya, di balik kebuasannya, buaya tercantum hewan yang setia. Jika buaya yang buas aja dapat setia, masa kalian enggak?
Mengakar pada tradisi warga Betawi, era dulu, roti buaya yang dijadikan seserahan terbuat dari bahan keras. Terus menjadi keras rotinya malah terus menjadi baik. Oleh sebab rotinya keras, jadi, tidak bisa jadi dibagikan kepada tamu terlebih dimakan. Sehabis dijadikan seserahan, sejoli roti buaya( jantan serta betina) diletakkan di atas lemari yang terdapat di dalam kamar pengantin.
Sehabis diletakkan di atas lemari, lalu diapakan? Tidak diapa- apakan. Dibiarkan begitu saja hingga membusuk. Itu merupakan simbol kesetiaan pendamping suami serta istri. Simbol kalau cuma mautlah yang bisa memisahkan cinta mereka berdua. Dalam sekali, ya.
Apalagi, nih, dahulu banget, saat sebelum berbentuk roti keras, buaya dijadikan seserahan dalam wujud replika yang dibuat dari daun kelapa ataupun kayu. Jika yang itu, sih, bener- bener tidak dapat dimakan. Itu dahulu. Saat ini? Roti buaya tidak lagi keras, tetapi empuk, apalagi diisi berbagi rasa, semacam cokelat, stroberi, serta pandan. Roti buaya tidak ditaruh di lemari dalam kamar pengantin, tetapi“ ditaruh” di perut para tamu. Era berganti, perlakuan terhadap roti buaya juga berganti.
Jadi gitu ges, sedikit cerita dari seserahan roti buaya. Bukan hanya empuk serta lezat, tetapi pula sangat dalam maknanya, ialah kesetiaan terhadap pendamping. Pemberian roti buaya dari pengantin laki- laki kepada pengantin perempuan merupakan lambang kalau si pengantin laki- laki hendak terus setia terhadap si pengantin perempuan hingga akhir hayatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *